Ritual Kritik Sosial di Pasar Seni Jakarta

Written By Solution Anti Virus on Monday, November 4, 2013 | 11:21 AM


Jakarta - Mengenakan baju safari lengkap dengan kopiah hitam, seorang pria duduk bersila di tengah jalan di area Parkir Timur Senayan Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (3/11). Lembaran kertas yang tengah dipegangnya dibakar dan abunya dilahap.


Setelah ritual itu, pria tersebut berpindah duduk ke kursi kayu yang tak jauh dari lokasinya semula. Kali ini di hadapannya terdapat sebuah meja yang dialasi peta Indonesia, satu piring berisi kue brownies besar berwarna-warni, dan sebuah gelas.


Tanpa dikomando, pria dengan baju safari ini melahap kue brownies yang terlihat manis itu. Selama sekitar 10 menit, kue itu tampak baru habis setengah. Muak dengan manisnya kue yang tak juga habis dimakan, pria itu mengangkat piringnya dan menuangkan isi gelas yang ternyata bensin ke meja dan kursi yang didudukinya. Peta Indonesia yang menjadi alas meja pun dibakarnya.


Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, pria itu kemudian menyuapi orang-orang yang ada di sekitarnya dengan kue brownis yang masih tersisa banyak. Performance art yang dilakukan seniman Isa Perkasa ini menyimbolkan kondisi politik Indonesia. Rakyat terus dipaksa untuk menelan janji manis politikus hingga merasa muak.


Tak jauh dari tempat Isa melakukan performance art, tiga wayang yang terbuat dari rangka kayu setinggi sekitar 3 meter berdiri di tengah jalan. Wayang pertama berwarna merah dengan tampang sangar. Tanpa mengenakan pakaian, wayang iu memiliki kuping besar, lidah terjulur dan taring menyembul.


Satu wayang lainnya yang berwarna hijau tampak lebih tenang dengan mengenakan pakaian ksatria. Di antara dua wayang itu, terdapat sebuah wayang yang menggambarkan sesosok wanita modern lengkap dengan kacamata dan jas.


Terbuat dari rangka kayu seberat sekitar 30 kg, kertas semen, dan dedaunan, tiga wayang karya seniman Pandu Radea tersebut disebut Wayang Landung, merupakan kesenian khas daerah Ciamis Jawa Barat.


"Ini merupakan eksplorasi Wayang Landung. Sebagai seni helaran untuk beri tafsir baru dimana simbol-simbol tradisi mampu berkolaborasi dengan kesenian urban yang divisualkan dalam bentuk kontemporer. Wayang berwarna merah menyimbolkan sisi negatif, dan yang berwarna hijau menyimbolkan sisi positif. Wayang di bagian tengah merefleksikan kondisi kekinian. Bisa ditafsirkan sebagai bunda putri, atau lainnya," kata Pandu.


Ketiga wayang karya Pandu itu, dihubungkan oleh plastik bening yang digunakan seniman Tisna Sanjaya sebagai kanvas. Masyarakat yang tengah berjalan santai diminta untuk menjadi obyek lukisan dengan cara menempelkan wajahnya ke 'kanvas'. Sambil berinteraksi dengan obyek lukisannya, Tisna menggambar wajah-wajah masyarakat menggunakan tangannya sebagai kuas.


Setelah puas bereksplorasi dengan lukisannya, Tisna meminta masyarakat memegang sapu lidi yang telah disediakan. Dengan iring-iringan musik daerah, dan wayang landung, kelompok besar ini kemudian mulai menyapu jalanan menuju Gedung DPR/MPR yang disebut sebagai tempat paling kotor.


Beberapa aksi para seniman ini merupakan bagian dari 'Pasar Seni Jakarta' yang digelar Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB) Jakarta. Selain kritik sosial yang setidaknya disajikan Isa Perkasa, Tisna Sanjaya, dan Wayang Landung, pasar seni ini juga menampilkan berbagai karya puluhan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta yang bercerita mengenai alam, kehidupan, dan lainnya.


Empat Zona


Pasar seni bertema "Jakarta Big Kampoeng" ini memiliki empat zona dari unsur kehidupan yaitu api, tanah, air dan angin. Setiap zona menampilkan wahana atraksi dan karya seni.


"Berbagai makna bisa kita tangkap di pasar seni ini. Ada yang bercerita alam, kritik, menyangkut kehidupaan, masyarakat diharapkan bisa berkaca dari karya-karya seni ini. Kami ingin seluruh seni yang ada di Indonesia hadir di sini, termasuk seni Jakarta," kata Ketua IA ITB Jakarta, Hendry Harmen.


Hendry berharap dengan digelarnya Pasar Seni Jakarta hingga Selasa (5/11) nanti, masyarakat Jakarta dapat lebih mengapresiasi seni di tengah kehidupan yang terbelenggu dengan rutinitas. Dengan tema 'Big Kampoeng', pihaknya tidak hanya mengangkat sisi Jakarta yang kosmopolitan tapi juga menjadikan Jaarta sebagai kota yang layak huni bagi anak semua bangsa.


"Jakarta bukan kota yang dikenal dengan kesemrawutan lalu lintas dan tingkat kriminalitas yang tinggi," katanya.


Hendry mengungkap, gelaran Pasar Seni Jakarta sebagai upaya mendukung harapan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo yang akan menjadikan Jakarta menjadi kota seni dan festival. Dengan berbagai kegiatan seni dan festival, masyarakat Jakarta diharapkan dapat semakin berbudaya.


"Kami berharap Pasar Seni Jakarta ini menjadi kegiatan tahunan, agar Jakarta menjadi kota berbudaya tinggi, sesuai keinginan Pak Jokowi," katanya.


Anda sedang membaca artikel tentang

Ritual Kritik Sosial di Pasar Seni Jakarta

Dengan url

http://motorcycleinnovation.blogspot.com/2013/11/ritual-kritik-sosial-di-pasar-seni.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Ritual Kritik Sosial di Pasar Seni Jakarta

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Ritual Kritik Sosial di Pasar Seni Jakarta

sebagai sumbernya

0 komentar:

Post a Comment

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger